Sabtu, 27 Desember 2014

Tugas 3 - Menulis Laporan Ilmiah ( Bahasa Indonesia 2# )

MENULIS LAPORAN ILMIAH
A.    Pengertian Laporan Ilmiah
Sebelum kita menjelaskan pengertian laporan ilmiah, kita jelaskan terlebih dahulu pengertian dari laporan.
Laporan ialah suatu penyampaian berita, informasi, pengetahuan, atau gagasan dari seseorang kepada orang lain. Laporan dapat berbentuk lisan dan dapat berbentuk tulisan. Laporan yang disampaikan secara tertulis merupakan suatu karangan. Jika laporan ini berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh dari hasil penelitian, pengamatan ataupun peninjauan, maka laporan ini termasuk jenis karangan ilmiah.
Dengan kata lain, laporan ilmiah ialah sejenis karangan ilmiah yang disusun melalui tahapan berdasarkan data setelah penulis melakukan percobaan, peninjauan, pengamatan, atau membaca artikel ilmiah. dan menggunakan metode ilmiah yang sudah disepakati oleh para ilmuwan.
B.     Macam-macam Laporan
1)      Laporan Pengamatan (Observasi)
Adalah aktivitas yang dilakukan seseorang, yang menghasilkan sebuah tulisan yang berisi hasil pengamatan terhadap suatu objek berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya. Contoh : Pengamatan yang dilakukan seseorang terhadap lingkungan ditempat tinggalnya.
2)      Laporan Penelitian (Eksperimen)
Adalah aktifitas yang dilakukan seseorang yang menghasilkan sebuah tulisan yang berisi hasil penelitian terhadap suatu objek berdasarkan penelitian (ekperimen) yang dilakukan. Contoh : Seorang ilmuwan yang melakukan ekperimen terhadap beberapa jenis obat untuk melihat hasil apakah obat tersebut dapat dikonsumsi oleh masyarakat banyak.
·         Jenis-jenis Laporan Hasil Penelitian
a.       Laporan lengkap
b.      Catatan penelitian pendek untuk publikasi jurnal akademik
c.       Monografi atau working paper dimana yang diutamakan adalah pengutaraan interpretasi sementara
d.      Makalah atau artikel jurnal akademik
e.       Makalah atau artikel utnuk press release untuk menarik perhatian membaca secara lengkap dan
f.       Buku di mana pengorganisasinya disesuaikan dengan format buku

3)      Laporan Perjalanan
Adalah laporan yang berisi kegiatan seseorang dalam melakukan perjalanan berdasarkan pengamatan, pengalaman dan observasi langsung pada tempat yang dikunjungi. Contoh : Laporan yang dibuat berdasarkan perjalanan seseorang ketempat-tempat bersejarah di Indonesia.
4)      Laporan Wawancara
Adalah laporan yang dihasilkan oleh seseorang dengan melakukan tanya jawab antara dua pihak yaitu seseorang tersebut sebagai pewawancara dan narasumber sebagai orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan pewawancara. Contoh : Pewawancara melakukan wawancara kepada calon presiden RI untuk mengetahui apakah visi dan misi untuk Negara Indonesia kedepannya.
·         Jenis-jenis wawancara
a.     Wawancara serta merta
Wawancara serta merta adalah wawancara yang dilakkan dalam situasi yang alamiah. Prosesnya terjadi seperti obrolan biasa tampa pertanyaan panduan.
b.    Wawancara dengan petunjuk umum
Wawancara dengan petunjuk umum adalah wawancara dengan berpedoman pada pokok-pokok atau kerangka permasalahan yang sudah dibuat terlebih dahulu.
c.     Wawancara berdasarkan pertanyaan yang sudah dibakukan. dalam hal ini pewawancara mengajukan pertanyaan berdasarkan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan atau dibakukan.

5)      Laporan Rekomendasi
Laporan yang diserahkan guna menyediakan keterangan dasar atau pujian terhadap sesuatu guna pertimbangan dalam tindakan berikutnya. Misalnya, laporan tentang letak daerah atau lokasi pabrik atau gedung bioskop, dan nasihat cara menaikkan efisiensinya.
6)      Laporan Kemajuan
Laporan yang diserahkan guna menyediakan informasi tentang kemajuan suatu rencana usaha, seperti pembangunan bendungan dan proyek penelitian.

C.    Ciri-ciri Laporan
1)      Pembacanya seorang atau sekumpulan orang tertentu. Laporan dibuat atas permintaan atau perintah. Adakalanya laporan berbentuk buku dan ditujukan kepada pembaca umum. Jika ditujukan kepada umum biasanya laporan berbentuk pamflet atau selebaran.
2)      Bentuk laporan yang disajikan atas permintaan atau perintah. Berupa laporan panjang yang terdiri atas: halaman judul, surat penyerahan, daftar isi, pendahuluan, uraian pokok, dan sering juga lampiran. Laporan pendek biasanya terdiri atas judul pokok dan nomor-nomor, dengan perlengkapan seperti biasa dalam surat-menyurat formal.
3)      Laporan itu bersifat sangat objektif, maksudnya terutama untuk menyajikan fakta. Jika ditarik kesimpulan, kesimpulan itu berupa induksi berdasar atas bukti spesifik. Jika dibuat suatu pujian atau rekomendasi, pendapat pribadi atau prasangka harus dihindari jauh-jauh. Bila data laporan itu tak cukup atau bertentangan satu dengan lainnya, pembaca dipersilakan untuk menyadari bahwa konklusi dan rekomendasi yang disajikan bersifat tentatif.
4)      Bahasa dan nadanya formal. Kata ganti orang harus dihindari. Titik berat dan tekanannya tidak berdasarkan pendapat penyaji data atau “Asal Bapak Senang” yaitu agar pembaca terpenuhi seleranya. Seperti dalam karya tulis ilmiah, dalam laporan harus tidak ada ungkapan pergaulan, bahasa kasar atau makian, atau susunan kata dan ungkapan yang ceroboh.
5)      Judul, subjudul, dan sub-sub judul, disusun dan diatur dengan perencanaan yang mantik. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, mantik diartikan dengan (1) cara berpikir yang hanya mendasarkan pikiran belaka; (2) perkataan yang benar. Laporan yang disajikan dengan baik dapat digunakan sebagai acuan.
D.    Persyaratan Bagi Pembuat Laporan
1)      Laporan yang dihasilkan berdasarkan hasil penelitian
2)      Pembahasan laporan yang dikemukakan harus obyektif sesuai realita/fakta
3)      Tulisan harus lengkap dan jelas sesuai dengan kaidah bahasa, Pedoman Umum
4)      Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), serta Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI)
5)      Tulisan disusun dengan metode tertentu dan menurut sistem tertentu
6)      Bahasanya harus lengkap, terperinci, teratur, ringkas, tepat, dan cermat sehingga tidak terbuka kemungkinan adanya ambiguitas, ketaksaan, maupun kerancuan.

Sumber :







Senin, 24 November 2014

Tugas 2 - Metode Ilmiah ( Bahasa Indonesia 2# )

METODE ILMIAH
      A. Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Cara untuk memperoleh pengetahuan atau kebenaran pada metode ilmiah haruslah diatur oleh pertimbangan-pertimbangan yang logis. Ilmu pengetahuan seringkali berhubungan dengan fakta, maka cara mendapatkannya, jawaban-jawaban dari semua pertanyaan yang ada pun harus secara sistematis berdasarkan fakta-fakta yang ada. Hubungan antara penelitian dan metode ilmiah adalah sangat erat atau bahkan tak terpisahkan satu dengan lainnya. Dengan adanya metode ilmiah pertanyaan-pertanyaan dasar dalam mencari kebenaran akan lebih mudah terjawab.
B. Tujuan Mempelajari Metode Penulisan Ilmiah
Dengan mempelajari metode penulisan ilmiah akan menghasilkan penemuan-penemuan yang berkualitas tinggi dan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan manusia.
Beberapa poin dari tujuan dan manfaat seseorang atau peneliti mempelajari metode penulisan ilmiah, yaitu:
 1) Menambah wawasan dalam menggunakan teknik yang cepat dan tepat untuk digunakan dalam      menyusun sebuah tulisan ilmiah.
 2) Membantu memecahkan permasalahan dengan penalaran dan pembuktian yang memuaskan.
 3) Menguji hasil penelitian orang lain sehingga diperoleh kebenaran yang objektif.
 4) Mengetahui bahasa yang digunakan pada tulisan ilmiah yaitu bahasa baku.
C. Sikap Ilmiah
Sikap ilmiah adalah suatu sikap yang menerima pendapat orang lain dengan baik dan benar yang tidak mengenal putus asa serta dengan ketekunan juga keterbukaan.
Untuk dapat menggunakan metode ilmiah dengan baik, para ilmuan harus memiliki beberapa sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah suatu sikap yang meliputi:
 1) Rasa ingin tahu : Selalu terdorong untuk lebih banyak ingin mengetahui. Caranya dengan            membaca buku, bertanya kepada orang yang  lebih tahu, mengadakan pengamatan, dan                  melakukan percobaan sendiri.
 2) Kejujuran          : Mencatat sesuai dengan hasil pengamatan, meskipun tidak sesuai dengan                                         yang diharapkan.
 3) Ketekunan         : Tidak mudah putus asa jika hasil percobaan tidak sesuai dengan yang                                              diharapkan. Tidak segan-segan mengulangi percobaan.
 4) Ketelitian           : Tidak ceroboh, baik dalarn merencanakan, menggunakan alat maupun                                   bahan, mengukur, mencatat data, mengolah data, dan dalam menarik kesimpulan.
 5) Obyektivitas      : Pendapat dan kesimpulan yang diarnbil harus berdasarkan fakta yang ada,                                       bukan berdasarkan pendapat pribadi atau orang lain.
 6) Keterbukaan     : Mau bekerja sarna dengan orang lain, mau menerima kritikan atau saran                                   dari orang lain yang bersifat membangun, dan mau memberikan pengalarnannya                             kepada orang lain.
D.    Langkah-langkah Pelaksanaan Penulisan Ilmiah
Karena metode ilmiah dilakukan secara sistematis dan berencana, maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan secara urut dalam pelaksanaannya. Setiap langkah atau tahapan dilaksanakan secara terkontrol dan terjaga. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:
1)      Merumuskan masalah.
Berpikir ilmiah melalui metode ilmiah didahului dengan kesadaran akan adanya masalah. Permasalahan ini kemudian harus dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Dengan penggunaan kalimat tanya diharapkan akan memudahkan orang yang melakukan metode ilmiah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, menganalisis data tersebut, kemudian menyimpulkannya. Perumusan masalah adalah sebuah keharusan. Bagaimana mungkin memecahkan sebuah permasalahan dengan mencari jawabannya bila masalahnya sendiri belum dirumuskan?
2)      Merumuskan hipotesis.
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang masih memerlukan pembuktian berdasarkan data yang telah dianalisis. Dalam metode ilmiah dan proses berpikir ilmiah, perumusan hipotesis sangat penting. Rumusan hipotesis yang jelas dapat membantu mengarahkan pada proses selanjutnya dalam metode ilmiah. Seringkali pada saat melakukan penelitian, seorang peneliti merasa semua data sangat penting. Oleh karena itu melalui rumusan hipotesis yang baik akan memudahkan peneliti untuk mengumpulkan data yang benar-benar dibutuhkannya. Hal ini dikarenakan berpikir ilmiah dilakukan hanya untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
3)      Mengumpulkan data.
Pengumpulan data merupakan tahapan yang agak berbeda dari tahapan-tahapan sebelumnya dalam metode ilmiah. Pengumpulan data dilakukan di lapangan. Seorang peneliti yang sedang menerapkan metode ilmiah perlu mengumpulkan data berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskannya. Pengumpulan data memiliki peran penting dalam metode ilmiah, sebab berkaitan dengan pengujian hipotesis. Diterima atau ditolaknya sebuah hipotesis akan bergantung pada data yang dikumpulkan.
4)      Menguji hipotesis.
Sudah disebutkan sebelumnya bahwa hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang telah diajukan. Berpikir ilmiah pada hakekatnya merupakan sebuah proses pengujian hipotesis. Dalam kegiatan atau langkah menguji hipotesis, peneliti tidak membenarkan atau menyalahkan hipotesis, namun menerima atau menolak hipotesis tersebut. Karena itu, sebelum pengujian hipotesis dilakukan, peneliti harus terlebih dahulu menetapkan taraf signifikansinya. Semakin tinggi taraf signifikansi yang tetapkan maka akan semakin tinggi pula derajat kepercayaan terhadap hasil suatu penelitian. Hal ini dimaklumi karena taraf signifikansi berhubungan dengan ambang batas kesalahan suatu pengujian hipotesis itu sendiri.
5)      Merumuskan kesimpulan.
Langkah paling akhir dalam berpikir ilmiah pada sebuah metode ilmiah adalah kegiatan perumusan kesimpulan. Rumusan simpulan harus bersesuaian dengan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Kesimpulan atau simpulan ditulis dalam bentuk kalimat deklaratif secara singkat tetapi jelas. Harus dihindarkan untuk menulis data-data yang tidak relevan dengan masalah yang diajukan, walaupun dianggap cukup penting. Ini perlu ditekankan karena banyak peneliti terkecoh dengan temuan yang dianggapnya penting, walaupun pada hakikatnya tidak relevan dengan rumusan masalah yang diajukannya.






DAFTAR PUSTAKA


Jumat, 24 Oktober 2014

Tugas 1 - Penalaran Deduktif ( Bahasa Indonesia 2# )

PENALARAN DEDUKTIF
Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Contoh penalaran deduktif adalah Silogisme.

Silogisme adalah proses penarikan kesimpulan secara deduktif yang sekurang-kurangnya didahului dua pernyataan (proporsi atau premis) sebagai antesedens (pengetahuan yang sudah dipahami) hingga membentuk suatu kesimpulan sebagai keputusan baru (konklusi atau konsekuensi). Berikut ini adalah hal-hal yang perlu kita cermati dalam menyusun silogisme :
1. Pernyataan pertama dalam silogisme disebut premis mayor adalah premis yang mengandung predikat            dalam kesimpulan, sedang pernyataan kedua disebut premis minor adalah premis yang mengandung                 subjek dalam kesimpulan.
2. Silogisme tidak boleh mengandung lebih dari tiga premis. Sebaliknya kurang dari dua premis tidak ada           silogisme, lebih dari tiga premis berarti tidak ada perbandingan.
3. Jika kedua premis (mayor dan minor) negatif, maka tidak dapat disimpulkan.
    - Contoh :
                   Semua batu bukan binatang.
                   Anjing itu bukan batu.
                   Jadi, anjing bukan binatang.
             4. Jika salah satu premis (mayor atau minor) negaitf, maka tidak dapat disimpulkan.
                 - Contoh :
                   Siswa-siswi SMU Kesantrian mengikuti upacara bendera.
                   Billy bukan siswa SMU Kesantrian.
                   Jadi, Billy tidak mengikuti upacara bendera.
             5. Jika salah satu premis partikular (mayor atau minor), maka kesimpulan tidak sahih.
                 - Contoh :
                   Beberapa orang kaya tidak merasa tenteram hidupnya.
                   Syarif adalah orang kaya.
                   Jadi, Syarif tidak merasa tenteram hidupnya (?)
             6Kedua premis (mayor dan minor) tidak boleh partikular.
                 - Contoh :
                   Beberapa orang kaya tidak bahagia.
                   Banyak orang jujur bahagia.
                   Jadi, orang-orang kaya tidak jujur.
                7. Pola Silogisme :
                 A  =  B   (Premis Mayor)
                 C  =  A   (Premis Minor)
                    =================
                 C  =  B    (Kesimpulan)
         Macam-macam Silogisme :
       1) Silogisme Kategorial
   Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
 - Premis umum     : Premis Mayor          (My)
 - Premis khusus   : Premis Minor           (Mn)
 - Premis simpulan : Premis Kesimpulan   (K)
     Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
      - Contoh Silogisme Kategorial :
         Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA      (My)
         Saya adalah mahasiswa                              (Mn)
         Saya lulusan SLTA                                     (K)
      Hukum-hukum Silogisme Katagorik :
      a) Apabila salah satu premis bersifat partikular, maka kesimpulan harus partikular juga.
          - Contoh :
            Semua yang halal dimakan menyehatkan.       (My)
            Sebagian makanan tidak menyehatkan.          (Mn)
            Sebagian makanan tidak halal dimakan.          (K)
      b) Apabila salah satu premis bersifat negatif, maka kesimpulannya harus negatif juga.
          - Contoh :
            Semua korupsi tidak disenangi.           (My)
            Sebagian pejabat korupsi.                   (Mn)
            Sebagian pejabat tidak disenangi.       (K)
      c) Apabila kedua premis bersifat partikular, maka tidak sah diambil kesimpulan.
          - Contoh :
            Beberapa politikus tidak jujur.   (premis 1)
            Bams adalah politikus.                (premis 2)
          Kedua premis tersebut tidak bisa disimpulkan. Jika dibuat kesimpulan, maka kesimpulannya hanya bersifat     kemungkinan (bukan kepastian). Bams mungkin tidak jujur (konklusi).
      d) Apabila kedua premis bersifat negatif, maka tidak akan sah diambil kesimpulan. Hal ini dikarenakan tidak      ada mata rantai yang menhhubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan dapat diambil jika salah satu      premisnya positif.
           - Contoh :
             Kerbau bukan bunga mawar. (premis 1)
             Kucing bukan bunga mawar. (premis 2)
            Kedua premis tersebut tidak mempunyai kesimpulan.
          2) Silogisme Hipotetik
    Silogisme hipotetik adalah silogisme yang premis mayornya berupa keputusan hipotetik dan premis minornya merupakan pernyataan kategorial.
 - Contoh Silogisme Hipotetik :
                Jika hari ini tidak hujan, saya akan kerumah nenek.      (Premis Mayor)
                Hari ini tidak hujan.                                                      (Premis Minor)
                Jadi, saya akan kerumah nenek.                                    (Kesimpulan)
      Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik :
      - Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antesedens.
         - Contoh :
           Jika hujan saya naik mobil.    (mayor)
           Sekarang hujan.                    (minor)
           Saya naik mobil.                   (konklusi)
       - Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
         - Contoh :
           Jika hujan, bumi akan basah. (Mayor)
           Sekarang bumi telah basah.  (Minor)
           Hujan telah turun.                (Konklusi)
       - Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antesedens.
         - Contoh :
           Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
           Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa.
           Kegelisahan tidak akan timbul.
        - Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
          - Contoh :
            Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah.
            Pihak penguasa tidak gelisah.
           Mahasiswa tidak turun ke jalanan.
        Hukum-hukum Silogisme Hipotetik :
      a) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
         b) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
         c) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
         d) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.
            
         3) Silogisme Alternatif
   Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
 - Contoh :
                Rumah itu besar atau kecil    (Premis Mayor)
                Rumah itu besar                   (Premis Minor)      
               Jadi rumah itu tidak kecil     (Kesimpulan)

             4) Entimen
   Entimen adalah bentuk silogisme yang diperpendek. Artinya, salah satu premis dihilangkan. Di dalamnya, terkandung abstraksi. Hubungan logis memegang peranan utama dalam proses ini. Pola entimen adalah C = B, karena A. Entimen selalu dimulai dengan kesimpulan (C = B) dan diikuti keterangan sebab sebagai penjelasan, keterangan, atau pelengkap.
 - Contoh :
                Anjani Rahel pergi ke Surabaya untuk studi tour sebab siswi kelas 3 SMU Kebangsaan.
                Bapak Mahir adalah anggota korpri sebab pegawai negeri
                Bapak Jane pasti berpuasa sebab seorang muslim yang taat.
   Bila kita cermati ketiga contoh tersebut, kita berhadapan dengan bentuk silogisme yang diperpendek, dirapatkan, dipadatkan premis-premisnya. Tidak asal menghilangkan, tetapi tetap memperhatikan dan mempertimbangkan kaitan logisnya.

Daftar Pustaka

http://dizly.wordpress.com/2011/02/28/definisi-penalaran-deduktif/http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaranhttp://id.wikipedia.org/wiki/Silogismehttp://books.google.co.id/books?id=AaEwdR17fZcC&pg=PA76&lpg=PA76&dq=silogisme+kategorial&source=bl&ots=6Klo9YfUA7&sig=n5kdQzPmy49chhCCrxf5I8ABDp4&hl=en&sa=X&ei=NHtAVNXDAcbamAXxuIJI&ved=0CDUQ6AEwAzgU#v=onepage&q=silogisme%20kategorial&f=truehttps://id.scribd.com/doc/216277044/PENALARAN-DEDUKTIFhttps://id.scribd.com/doc/114459119/Contoh-Silogisme